Finally, writing again after 6 weeks working in Puskemas in a village called Cipari (far far away to the west Cilacap, hehe). Besides, me and my team conducted a research about Villagers' Knowledge and Perception about TB.
A lot of precious moments I've had during 6 weeks there besides handling patients. I went to Posyandu, brought a new material of which midwife hardly never presented it to mothers, it was about early stimulation for children especially newborns, babies, and toddlers. I was one of the judges in Lomba Balita Sehat and I also gave lessons to the future Dokter Cilik, they were fun!
People were kind-hearted and nice, so were Puskesmas employers. Though I can't speak Javanese, I was trying as hard as I could to understand what patients mainly complaint (with that "ngapak-ngapak" accent) and trying to explain the disease and therapy in Javanese (I might suck in speaking Javanese).
(Oh, I might be not in the mood using English. Back to Bahasa...)
Kondisi Puskesmas di sini cukup prihatin. Selain minimnya alat dan perlengkapan pemeriksaan (bahkan handskun pun ga ada!), juga obat-obatannya hanya terbatas stoknya.
Puskesmas ini tidak punya otoskop ataupun aplikator, sehingga untuk pasien THT agak kesulitan menilai lubang telinga dan membran timpaninya, dan kalo ada cerumen prop terpaksa dikeluarkan dengan cotton bud saja. Puskesmas ini juga tidak punya tongue spatele sehingga bila pasien dengan keluhan tenggorokan sakit jadi susah sekali melihat keadaan tonsil dan faring yang tertutup lidah. Puskesmas ini gak punya handskun! Sehingga kalau ada pasien yang butuh dibersihkan lukanya dilakukan degan tangan telanjang, untunglah saya sekantong handskun dan saya sumbangkan semua untuk puskesmas.
Bagaimana dengan obat-obatan? Ini lebih prihatin lagi.
Banyak sekali stok obat yang habis. Meskipun telah melayangkan permintaan untuk didatangkan stok obat-obatan ke pemerintah pusat, datangnya lamaaaaa sekali.
Untuk obat wajib puskesmas seperti parasetamol saja tidak ada, yang ada hanya analgesik NSAID yang agak berisiko diberikan pada penderita gastritis (dan herannya hapir semua pasien yang datang mempunyai riwayat gastritis). Obat wasir tidak ada, padahal pasiennya ada. Obat-obatan untuk OA tidak ada juga, pasiennya adalah beberapa, obat gatal cuma ada CTM padahal berisiko diberikan pada orang tua atau yang memiliki hipertensi. Wes, tobat tenan...
Rawat inap. Pasien di sini juga prihatin. Kebanyakan para pasien rawat inap adalah pasien yang ditanggung oleh asuransi jaminan kesehatan masyarakat alias JAMKESMAS, tapi mirisnya, pelayanan rawat inap puskesmas yang ditanggung oleh jamkesmas sedikit sekali. Bahkan untuk cek darah atau rontgen pun mereka tidak ditanggung, artinya kalau mau melakukan itu harus tambah biaya sendiri. Jadi seringnya pasienpasien tersebut tidak dilakukan pemeriksaan penunjang karena faktor biaya. Kalo mau sih bisa aja gue cuek, tetep melakukan pemeriksaan tsb terhadap pasien. But hey! Gue bahkan bukan pegawai di puskesmas itu, cuma numpang magang, saya gak punya otorias bahkan dokter puskesmas yang sesungguhnya juga ga punya wewenang. Karena dokter itu kan manusia, yang dituntut kayak dewa, tetap taat pemerintah dan takut kena clurit karena anjuran untuk berhenti merokok (ironis!)
Lagi-lagi, sering sekali masyarakat awam itu menyalahkan dokter karena kebijakan pemerintah yang menurut masyarakat tidak adil! Padahal dokter gak punya wewenang terhadap kebijakan itu, semua kan sudah diatur. Meskipun seringkali administrasi dan birokrasi yang diatur itu membuat jengkel, ya mau bagaimana lagi??
Ada lagi, orang yang ngeliat koass mondar-mandir di poli sambil bawa hape terus dibilang sombong. Aduh, ga ngerti korelasinya. Kalo dia mendapat perlakuan kasar dari si koass, entah si koass menjawab pertanyaannya dengan tidak ramah, bahkan kasar, baru gue maklum dia bilang koass itu sombong. Berinteraksi dengan koass saja dia tidak.
Dan sedihnya lagi, akibat omongannya itu, dokter khususnya koass khususnya koass UGM mendapat stigma. Mereka bilang SEMUA DOKTER itu sama-sama materialistis, SEMUA DOKTER itu orang berduit makanya sombong, MAHASISWA FK sekarang cuma modal duit tapi ga ada otaknya, wajar aja sekolahnya aja masuknya ratusan juta, MAHASISWA FK itu sombong dan segala caci maki yang membuat saya sangat sakit hati.
Saya MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UGM, saya tidak membayar ratusan juta untuk masuk ke FK UGM, saya membayar ongkos masuk sama seperti mahasiswa Teknik dan Farmasi, uang semesteran saya sama seperti uang semesteran mahasiswa fakulas eksakta lainnya, supaya tembus SPMB saya belajar mati-matian. Kalian tahu??? Di fakultas saya, banyak teman yang membayar uang masuk 0 rupiah, dan mereka tetap diterima jadi mahasiswa. Kalian tahu? Di fakultas saya, banyak teman yang tidak perlu membayar uang semesteran karena banyak beasiswa yang tersedia. Jadi, apanya yang eksklusif? Semua orang, kaya dan miskin, punya hak sama untuk bisa belajar di fakultas ini! Tapi publik yang entah siapa itu lah yang menyebarkan rumor bahwa sekolah kedokteran itu mahal! Tidak semua sekolah kedokteran seperti itu, buktinya FK UGM tidak.
Saya pingiiiin banget mengajak si orang yang ngomong (dan yang nulis) itu menjalani keseharian koass, 1 minggu saja. Bisakah mereka survive? Atau mereka cuma bisa membuat kritik yang memojokkan dan seketika menjadi hakim orang lain tanpa mengerti duduk persoalannya? Pake snelli trus dibilang eksklusif? Pake snelli dan kebetulan bawa BB trus dibilang eksklusif. (Hape sekarang fungsinya bukan cuma buat telpon dan sms ya, tapi juga bisa buat GOOGLING! karena para senior seringkali menyanyakan teori kasus di tempat dan menyuruh kami langsung untuk mencari jawabannya) Mondar-mandir dari satu ruangan poli ke poli lainnya untuk melihat sebanyak2nya kassus trus dibilang eksklusif. Imatur!
Saya juga bisa bilang hal yang sama. Dia-yang-menulis-opini-itu sombong sekali karena tidak mau menerima ajakan untuk menjalani kegiatan koass selama 1 minggu, dia sombong sekali bisa bilang koass itu sombong, dia sombong sekali baru bisa nulis kaya gitu aja sombong.
Akibat opini imatur yang tidak bertanggung jawab itu, koass-koass yang berusaha bertahan dalam kehidupan per-koass-an yang meletihkan fisik dan mental, yang masih memegang tujuan mulia dokter, ikut mendapat stigma. Dokter-dokter yang rela susah di pedalaman hutan kalimantan atau papua, yang gajinya sering telat, yang jadi korban perang antar suku, ikut terkena stigmanya. Tolong diingat, jumlah mereka ini masih banyak tapi tidak pernah diekspos! Seperti mental infotainment, semakin buruk maka semakin bagus beritanya, ya kan?
Harusnya dokter muda mulai menulis buku tentang detail keseharian koass dan menyebarkannya ke masyarakat biar kalian masyarakat tahu bahwa kami menuntut ilmu ini sungguh-sungguh gak pake main-main, kami sadar kami berurusan dengan nyawa manusia.
Kenapa sih ga ada yang protes ketika ada mahasiswa hukum yang kebetulan anak hakim, kemana-mana dikawal pengawal pribadi, lalu dibilang mahasiswa hukum sombong. Temen gue anaknya Menristek juga gak segitunya, membaur seperti teman-temannya. Emosiii!
Kenapa? Dokter gak boleh emosi? Manusia macam apa yang gak punya emosi?
0 comments:
Post a Comment